Tuang Cerita

Secangkir Hangat Cerita Ibu Muda

Pengalaman + 7 Tips Melahirkan dengan Minim Robekan dan Trauma

Pengalaman + 7 Tips Melahirkan dengan Minim Robekan dan Trauma

Apa yang kamu bayangkan ketika mendengarkan kata “melahirkan”?

Kalau saya (dulu), langsung terbersit seorang perempuan yang sedang duduk mengangkang dengan muka kelelahan dan berteriak mengejan.

Sama nggak apa yang kamu pikirkan dengan saya? Jika iya, berarti kita sama. Sama-sama korban sinetron 😀

Sumber gambar : thestir.cafemom.com

Mindset tentang Melahirkan

Percayalah pada saya, melahirkan itu tidak semenakutkan dan semenyakitkan yang kamu bayangkan. Sayangnya kita hidup di zaman yang penuh dengan pengondisian melalui tayangan di TV yang belum tentu benar.

Ya, kebanyakan film dan sinetron mesti mempertontonkan adegan melahirkan itu dengan seorang wanita yang berteriak kesakitan atau marah-marah. Sehingga tanpa disadari itu masuk ke dalam bawah sadar kita dan membentuk sebuah mindset : melahirkan itu menyakitkan sekaligus menakutkan.

Padahal itu nggak sepenuhnya benar.

Ngomong-ngomong tentang melahirkan, dulu itu saya paling ngeri membayangkan proses melahirkan. Saya pasti udah parno duluan dan ngerasa langsung lemes (saya sampai fobia melahirkan!)

Gentle Birth

Tapi kemudian fobia saya berangsur sembuh ketika saya mengenal konsep gentle birth. Apa sih itu gentle birth?

Pendek kata, Gentle Birth adalah proses melahirkan dengan miminimalisir rasa sakit dan trauma. Caranya? Dengan melakukan berbagai usaha.

Tetapi yang harus dilakukan pertama kali (menurut saya) adalah membenahi mindset tentang melahirkan.

Bahwa setiap wanita sejatinya secara alamiah (telah diberikan oleh Tuhan) untuk memiliki kemampuan melahirkan yang “lembut” (bukan penuh dengan teriakan kesakitan dan ketakutan).

Mungkin untuk lebih lengkap tentang gentle birth, bisa lihat di website bidankita.com atau IG @bidankita.

Kalau yang ngefans sama Andien, pasti tahu gentle birth, karena Andien itu semacam maskot gentle birth.

Diprediksi akan Robek

Setelah belajar tentang gentle birth, saya masih memiliki ketakutan. Apa itu? Takut vagina saya sobek dan dijahit.

Terlebih setelah dilakukan pemeriksaan tulang panggul, 2 orang (1 dokter SPOG dan 1 bidan) memprediksi bahwa vagina saya hampir dipastikan akan sobek, karena tulang panggul saya kecil, sehingga si bayi akan sulit untuk keluar, dan terpaksa akan menyobek rahim (huwaaa mau mewek rasanya saat itu T_T )

Membayangkan hal itu saya rasanya sedih plus takut.

Usaha yang Dilakukan

Tapi saya tidak menyerah, tetap berusaha agar robekan pasca melahirkan tidak terlalu parah.

Hasilnya? Alhamdulillah.. saya hanya terkena robekan 1 kecil, artinya robekannya tidak sampai 1 cm.

Itu sebabnya saya tidak merasa sakit sama sekali pasca melahirkan, dan proses menjahit robekan pun berjalan cepat.

Proses melahirkan saya juga tidak seperti drama di TV pada umumnya 😀

Mau tahu apa saja upaya yang saya lakukan? Yuk coba intip ini, siapa tahu berhasil di kamu.

1. Pijat Perineum

Perineum adalah kulit yang ada di antara vagina dengan lubang anus. Nah, perineum ini yang biasanya sering robek ketika melahirkan.

Supaya lebih ada bayangan, di bawah ini saya tampilkan letak perineum. Maaf jika vulgar, tapi maksud saya share ini sebagai ilmu pengetahuan.

Sumber gambar : hermanwallace.com

Nah, pijat perineum berarti pemijatan yang dilakukan di area perineum. Pijat ini biasanya baru boleh dilakukan saat usia kandungan memasuki 34 minggu.

Tujuannya agar area perineum ini tidak kaku, sehingga ketika ada kepala dan tubuh bayi yang akan keluar, area di sekitar vagina dan perineum ini dapat elastis, tidak sampai sobek.

Pijat ini dapat dilakukan oleh diri sendiri, atau meminta bantuan pasangan, atau bidan (ada beberapa bidan yang menyediakan jasa pijat ini).

Bagaimana caranya? Kurang lebih seperti ini :

– Cuci tangan dengan bersih menggunakan sabun.

– Pakai sarung tangan plastik (yang biasa digunakan oleh perawat atau dokter atau laboran).

– Balurkan vitamin E atau minyak nabati ke sarung tangan agar licin (tidak kesat)

– Masukkan 1 jari sekitar 2-3 cm ke arah dalam vagina, tekan secara perlahan selama sekitar 30 detik sampai 1 menit. Biasanya perut kita akan berkontraksi saat perineum ditekan dan kita merasakan nyeri. Untuk mengurangi nyeri, usahakan untuk tetap tenang, pejamkan mata, lalu ambil napas panjang dan dalam. 

– Pindahkan tangan ke area yang lain, lalu tekan lagi. Begitu seterusnya (diulang) sampai kurang lebih 30-40 menit

Untuk panduan yang lebih lengkap, saya melihat video Youtube dari bidankita.com. Videonya dapat dilihat di sini.

Pijat ini bisa dilakukan 1-2x seminggu menjelang persalinan. Tapi kalau saya waktu itu, baru sempat 1x saja, tapi Alhamdulillah hasilnya lumayan ampuh vagina saya tidak robek).

Oia, jika akan melakukan pijat perineum, sebaiknya konsultasikan terlebih dulu ke dokter kandungan. karena pada beberapa kondisi, ternyata pijat perineum tidak disarankan. Seperti wanita hamil yang menderita plasenta previa, mengalami pendarahan rahim, penderita herpes vagina, hingga preeklampsia.

2. Prenatal Yoga

Prenatal yoga ini mirip dengan yoga pada umumnya, tetapi gerakannya lebih disesuaikan untuk kebutuhan ibu hamil.

Jika gerakan-gerakannya dilakukan dengan benar, maka kita akan dapat manfaat sebagai berikut :

  • Memberikan kekuatan untuk ibu selama masa kehamilan hingga proses bersalin. Pada saat bersalin, kita akan lebih siap dan lebih kuat untuk mengejan.
  • Membantu memposisikan kepala bayi ada di bawah (menghadap jalan lahir)
  • Dapat meredakan sakit punggung dan pegal-pegal
  • Membantu melatih pernapasan
Sumber : womantalk.com

Prenatal yoga ini berbeda dengan senam hamil. Bedanya di gerakan-gerakannya, durasi, dan biaya instrukturnya hehee.

Prenatal yoga ini biasanya sudah bisa dilakukan sejak usia kandungan 16 minggu, dengan catatan tidak ada kelainan pada si Ibu dan janin.

Sebagai informasi, untuk di Jakarta Selatan, kelas prenatal yoga bisa diikuti di RS Kemang Medical Care, Klinik BWCC cabang Jagakarsa, atau di doula Rika (alamat rumahnya di Rumah Popok Enphilia, Pengadegan Selatan VII/30, RT.9/RW.5, Pengadegan, Pancoran, Jaksel).

3. Posisi Mengejan yang Benar

Ada banyak posisi untuk mengejan. Ada posisi berdiri, jongkok, setengah berdiri dan jongkok, duduk mengangkang, dan lain-lain.

Posisi pada umumnya dan yang sering kita lihat adalah yang duduk mengangkang seperti di bawah ini. Kata dokter SPOG saya, posisi itu paling win-win solution untuk bayi, ibu, dan dokter.

Jika posisi dengan duduk tersebut, bayi akan lebih mudah ditangkap oleh dokter dengan tangannya, dibandingkan ketika posisi berdiri atau duduk. Dokter juga lebih mudah untuk memantau proses bersalin.

Saya sering mendengar bahwa saat mengejan, jangan sekali-kali mengangkat pantat. Kenapa? Karena akan membuat vagina untuk lebih mudah robek.

Dan saya juga pernah mendengar beberapa pengalaman ibu melahirkan yang vaginanya robek karena hal tersebut.

Dugaan saya, ketika pantat kita diangkat, akan membuat bayi lebih mudah keluar, karena ada bantuan gravitasi (karena saat itu posisi jalan lahir lebih miring). Tetapi efeknya membuat vagina tertekan, sehingga terjadilah robekan. *ini hanya dugaan saya ya hehee

Oleh karena itu, ketika sudah pembukaan 10 dan sedang mengejan, ingatkan diri kita dan suami agar kita tidak mengangkat pantat.

4. Memilih Dokter/ Bidan yang Tepat

Saya diceritakan oleh kakak dan adik ipar saya, bahwa ketika melahirkan, dokter yang dan bidan yang praktek bersikap “agak kasar”. Ketika kakak saya berteriak kesakitan, malah diomelin. (Hadeeuh saya hanya bisa mengelus dada mendengarnya)

Kemudian karena kakak saya tidak bisa mengejan dengan benar (kepala bayinya belum keluar), akhirnya dokternya menekan dan mendorong perut kakak saya, sehingga bayinya langsung keluar.

Padahal ketika bayi dipaksa keluar dengan cara didorong begitu, itu bisa menyebabkan perineum kita sobek. Belum lagi perlakuan kasar seperti itu dapat meninggalkan trauma bagi sang Ibu.

Oia sebagai informasi, saya melahirkan di klinik BWCC (Bintaro Women and Children Clinic) cabang Jagakarsa, karena dekat dari rumah dan suasananya homy banget.

Sejak awal saya memilih dr. Dian. Saya merekomendasikan beliau, karena selain cantik, beliau orangnya suka bercanda, dan blak-blakan (tapi nggak boleh baper ya sama omongan-omongan beliau).

Ketika proses melahirkan (sudah pembukaan 10), dr. Dian malah bercanda dengan bidan yang membantu, sehingga kami yang ada di ruangan tertawa. Bidannya juga membuatkan saya teh manis, supaya saya bisa ada tenaga untuk mengejan. Benar-benar bidan dan dokter yang ramah.

5. Selalu Afirmasi Positif

“Kita adalah apa yang kita pikirkan.”

Saat divonis vagina saya akan robek, saya tetap berusaha afirmasi diri saya, bahwa semua akan baik-baik saja.

Saya terus meyakinkan diri saya.

Bahwa tidak ada yang perlu ditakuti.

Bahwa vagina saya tidak akan robek.

Bahwa bayi itu pintar, ia tidak akan melukai ibunya.

Bahwa saya dapat bekerjasama dengan baik dengan bayi saya untuk memuluskan proses persalinan.

Sumber gambar : www.brambleandbirth.com

Saya terus berbicara pada diri saya kalimat-kalimat di atas. Kamu juga bisa membuat kalimat afirmasi sesuai kebutuhanmu.

Oia untuk membuang mindset “melahirkan itu menakutkan”, saya menyarankan untuk mengikuti kelas hypnobirthing.

Karena ternyata untuk membuang pikiran yang sudah merasuk sampai ke alam bawah sadar kita itu butuh waktu dan proses, tidak bisa dengan hanya 1-2 hari.

Sehingga tidak ada salahnya ikut kelas hypnobirthing sejak usia kandungan masih 2-3 bulan.

6. Buat Pengondisian

Setelah mengenal konsep gentle birth dan menjelang proses persalinan yang semakin dekat, saya merasa perlu untuk lebih banyak dikondisikan agar tetap tenang dan tidak takut. Caranya?

Saya men-download banyak gambar dan quotes seputar gentle birth. Selain ditempel di kamar, saya juga menjadikan di wallpaper HP agar selalu dapat terbaca.


Sumber gambar : www.agentlejourney.co.uk

7. Tetap Tenang saat Proses Melahirkan

Nah, ketika sudah hari-H dan sudah pembukaan 10, tetaplah tenang. Karena jika panik, seluruh otot dan tubuh kita ikut menegang.

Sehingga jangan sampai area vagina dan perineum kita yang sudah kita latih untuk lentur (pijat), malah kembali kaku karena pikiran kita yang panik.

Sumber gambar : pinterest

Oke, cukup sekian share dari saya. Ternyata panjang juga ya 😀

Selamat mempraktekkan tips-tips dari saya. Semoga diberikan kemudahan dan kelancaran dalam proses persalinan Aamiin.

Salam tuang cerita. Karena di setiap cerita, pasti ada untaian permata.

Sumber: Unsplash

Sumber :

https://www.alodokter.com/pijat-perineum-berguna-melancarkan-proses-melahirkan

4 thoughts on “Pengalaman + 7 Tips Melahirkan dengan Minim Robekan dan Trauma

  1. Selamat, ya, mbak. Semoga Ananda jadi anak solih yang berbakti kepada orang tuanya.

    Meski sudah 3x melahirkan, tetep aja deg deg ser kalo baca soal melahirkan.

    Btw, yang diprediksi sobek itu rahim atau vagina, mbak?

    1. Vagina, mba. Lebih tepatnya kulit perineum itu yang sobek.

      Mungkin pengalaman 3x melahirkan itu menyakitkan semua ya, mba? Semangat, mbaa. Mindset itu masih bisa diubah kok

Tinggalkan Balasan ke Diah Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *