Tuang Cerita

Secangkir Hangat Cerita Ibu Muda

Mau Beralih dari Working Mom menjadi Full Time Mom (Ibu Rumah Tangga)? Siapkan Dulu 11 Hal Ini

Mau Beralih dari Working Mom menjadi Full Time Mom (Ibu Rumah Tangga)? Siapkan Dulu 11 Hal Ini

Akhir tahun lalu, saya memutuskan untuk resign dari pekerjaan di kantor (karena lelah dengan politik kantor) dan berniat menjadi full time mom alias ibu rumah tangga (IRT). Tetapi setelah beberapa minggu berjalan, saya mulai berubah pikiran, dan mencemaskan banyak hal.

Pada intinya, saat itu saya menyadari bahwa saya belum siap. Padahal, berubah profesi dari working mom menjadi full time mom, (menurut saya) bukanlah hal yang mudah, karena ini bukan hanya tentang mengubah kebiasaan, tetapi juga mengubah mindset, pola hidup, ruang gerak dan karya, sampai masalah keuangan.

Oleh karena itu, sebelum memutuskan untuk melakukan perubahan, sebaiknya kita sudah memiliki perencanaan dan persiapan yang matang. Jika tidak, maka yang akan terjadi adalah kekacauan.

Berdasarkan pengalaman saya yang lalu, setidaknya 11 hal ini harus disiapkan sebelum resign untuk beralih menjadi IRT.

1. Siapkan mental

Saat memilih menjadi Ibu Rumah Tangga, pasti ada saja yang mengomentari dengan pilihan kita tersebut atau lebih parahnya nyinyir.

“Sia-sia dong ambil kuliah 4 – 5 tahun kemarin, kalau ujung-ujungnya malah bertengger di rumah, berkutat dengan kepulan asap dapur dan debu.”

Cuekin saja lah ya. Ambil penyumbat telinga yang banyak hehee. Karena manusia memang paling pintar dalam menuliskan daftar kesalahan orang lain ketimbang diri sendiri, lalu merasa paling hebat dalam mengurusi hidup orang. Jadi biarkan saja orang berkata apa pada kita, tetapi jangan biarkan mereka mengendalikan perasaan dan hidup kita.

Kita juga tidak akan bisa menyenangkan semua orang. Ingat pada kisah si Bapak, Anak, dan Keledai kan?

Inti ceritanya kira-kira begini. (Siapa tahu ada yang belum pernah dengar cerita ini)

Suatu hari ada seorang bapak, anak, dan keledainya yang membawa barang mereka. Si Bapak duduk di keledainya, sedangkan si Anak berjalan kaki di sampingnya. Lalu ada orang yang lewat dan mengomentari, “Tega sekali bapaknya, duduk enak di atas keledai, sementara anaknya dibiarkan berjalan”.

Lalu si Bapak pun turun dan anaknya yang duduk di keledai itu. Kemudian mereka bertemu orang lagi. Dan orang itu berkomentar, “Ya ampun, tega banget anaknya. Sungguh tidak berbakti pada orangtua, karena membiarkan bapaknya berjalan, sementara ia sendiri duduk di atas keledai”.

Lalu si Anak dan Bapak itu pun duduk bersama di atas keledai. Mereka bertemu orang kembali, dan mendapatkan komentar, “Sungguh tega sekali keluarga ini pada keledainya. Masa satu keledai ditunggangi oleh dua orang? Sudah itu, masih taruh barang pula. Tidak punya perikemanusiaan”.

Akhirnya mereka berdua pun turun dari keledainya. Sekarang si Anak dan Bapak berjalan bersama di samping keledainya. Lagi-lagi mereka bertemu dengan orang yang berkomentar, “Bodoh sekali anak dan bapak ini. Ada keledai, malah tidak dinaikin”

See..? Orang tidak akan pernah berhenti mengomentari hidup kita, apapun pilihan kita. Jadi, cuek saja.. Karena yang mengetahui kondisi hidup kita, dan pertimbangan kita untuk memilih menjadi IRT itu adalah kita sendiri.

2. Siapkan tabungan yang mencukupi

Menjadi IRT berarti keluarga kehilangan satu pos pemasukan, sementara pengeluaran tiap bulannya bisa jadi hampir sama (paling berkurang Rp 1 sampai 2 juta). Untuk mengantisipasi adanya hal buruk yang terjadi di masa depan, alangkah baiknya jika sebelum resign, kita menyiapkan tabungan minimal sebesar 3 kali pengeluaran bulanan. Tetapi untuk lebih amannya, lebih baik siapkan tabungan 5 kali pengeluaran bulanan.

3. Mulai memikirkan skill yang akan diasah

Meski menjadi ibu rumah tangga (IRT), kita perlu memiliki minimal satu skill (keterampilan) yang dikuasai. Keterampilan di sini bisa macam-macam, mulai dari menulis, memasak, crafting, desain, video-editing, fotografi, nge-MC, dan lain-lain.

Memang apa sih pentinya IRT punya keterampilan? Begini..

a) Karena perempuan yang terampil akan lebih merasa berharga dan berdaya.

Memang ketika saya amati pada beberapa kawan, mereka yang hanya menjadi IRT tanpa ada keterampilan yang diasah atau diunggulkan, cenderung menjadi rendah diri atau merasa kurang berharga.

Padahal perempuan yang memiliki harga diri yang lebih tinggi akan cenderung lebih efektif dalam menyelesaikan masalah dan akurat dalam mengambil keputusan. Dengan kemampuan yang lebih baik dalam menyelesaikan masalah, perempuan akan lebih bahagia dan lebih efektif menjalani perannya.

Sebuah penelitian di Chicago bahkan menyebutkan, bahwa perempuan yang menjalani peran ganda atau memiliki kesibukan lain selain menjadi ibu rumah tangga, cenderung lebih bahagia dan puas akan kehidupan rumah tangganya.

b) Dengan menguasai suatu skill, kita dapat menghasilkan uang.

Bagi saya pribadi, rasanya benar-benar tidak enak jika tidak memiliki penghasilan sendiri. Apalagi sebelumnya gaji saya sudah cukup besar. Jadi ketika ada kebutuhan sekunder, saya bisa membelinya dengan cepat, karena saya memegang uang.

Nah, dengan memiliki skill, kita jadi tetap memiliki penghasilan (tidak sepenuhnya mengandalkan suami). Dari skill tersebut, kita bisa memilih sendiri waktu bekerja yang diinginkan (bisa 3 hari sekali, mingguan, atau dwimingguan).

Jika tertarik menjadi freelancer, bisa baca tulisan saya tentang kiat menjadi freelancer di era digital.

Pexel

c) Skill dapat membuat kita mandiri secara ekonomi

Yups. Bukan hanya sebagai penghasilan tambahan, tetapi dengan skill yang semakin terlatih, kita bahkan dapat menjadikan itu sebagai penghasilan utama. Karena mengandalkan keuangan dari pak suami saja menurut saya belum aman. Sebab kita tidak bisa memastikan masa depan, akankah suami kita tetap sehat, terus berpenghasilan, dan setia bersama kita hehee. Bukankah lebih baik sedia payung sebelum hujan?

4. Membuat perencanaan dan target sebagai pribadi (individu) dan sebagai ibu

Ketika bekerja di kantoran, biasanya kita memiliki daftar kerjaan yang harus dilakukan (to-do-list). Atau setidaknya, otak kita sudah memiliki rekaman hal yang akan dilakukan. Hal ini akan memandu kita untuk menyelesaikan pekerjaan dengan segera, bahkan mencapai target.

Lha kalau jadi IRT, apa perlu membuat to-do-list juga? Sangat perlu, agar kita tidak menjadi orang yang galau (merasa hampa dan tidak bermakna).

Resplash

Buatlah target untuk pribadi. Misalkan tentang skill yang akan ditingkatkan, atau kebiasaan baik yang ingin dibangun (seperti berolahraga, membaca buku, dan lain-lain).

Kemudian buat juga target sebagai ibu. Contohnya, target bulan ini adalah berhasil memasak satu makanan kesukaan anak dan suami. Atau berhasil membuat anak menjadi excited terhadap dongeng kita.

5. Membuat “kandang waktu” untuk online

Waktu luang itu sangat dekat dengan kesia-siaan, yang akhirnya berujung pada penyesalan.

Ya, pengalaman saya, ketika ada waktu luang, biasanya malah dipakai untuk buka media sosial. Akhirnya saya keterusan (keasyikan sendiri), sampai anak terbangun lagi. Setelah itu menyesal T_T

Hadeeeuh..padahal niatnya cuma sebentar buka smartphone, untuk refreshing aja. Tapi karena penasaran, malah stalking profil orang lain dan baca-baca hal yang nggak penting. Terkadang yang niat awalnya mau cari resep masakan, bisa menyebar ke berbagai situs lain yang nggak ada hubungannya sama sekali dengan resep.

Oleh karena itu, sebaiknya siapkan waktu (jam tertentu dan berapa lama) dimana kita boleh online. Misalkan untuk siang, jam 11.00 sampai jam 12.00 dimana pada saat itu sudah selesai masak, beres-beres, dan anak sedang tidur. Tetapkan juga tujuan kita online, agar kita tidak kebablasan, yang membuat kita malah tidak produktif.

6. Menyiapkan keahlian dasar memasak

Sebenarnya ini keahian yang harus dimiliki oleh setiap perempuan. Tapi percayalah, ada saja yang tidak menyukai aktivitas memasak ini (salah satunya saya hehee).

Bagi yang masih tinggal bersama orang tua atau mertua, bisa jadi ini bukanlah hal yang penting. Tetapi bagi yang tinggal sendiri dan tidak menggunakan jasa ART, ini menjadi penting. Dan sudah barang tentu kita tidak bisa terus-terusan mengandalkan orang tua kita atau ART.

Resplash

Keahlian memasak ini akan didapatkan seiring jam terbang memasak kita yang makin tinggi. Saya sendiri saat ini masih terus belajar untuk membuat masakan yang enak (walaupun masih seringnya gagal hehee), tapi tentu saja saya tidak menyerah. Karena bagi saya, memasak adalah salah satu cara agar menjadi ibu dan istri yang dirindukan.

7. Mempelajari ilmu menyelesaikan pekerjaan rumah tangga dengan efektif dan efisien

(Teknik mencucipiring dengan cepat lagi bersih, menjemur pakaian, menggosok baju, dan lain-lain). Ini adalah optional. Jika berencana untuk mengambil ART, menurut saya tetap ini harus dipelajari. Karena kita tidak bisa sepenuhnya tergantung pada ART.

Lalu, bagaimana caranya agar dapat menyelesaikan tugas rumah tangga dengan cepat? Jawabannya, sering berlatih, dan bertanya pada orang zaman dahulu tekniknya, atau bisa juga dengan membaca buku tentang gaya hidup minimalis.

8. Menyiapkan asuransi kesehatan

Bagi saya, ini penting. Karena seminggu setelah saya resign, suami mendadak drop, hingga harus ke IGD dan dirawat. Ternyata biayanya lumayan banget, lebih dari 2 juta (suami saya hanya ada BPJS kesehatan, tidak ada asuransi, karena beliau bekerja di instansi pemerintah).

Biasanya biaya pengobatan anak dan suami ditanggung oleh asuransi dari kantor saya. Saat resign, kami sekeluarga jadi tidak memiliki asuransi. Sehingga menurut saya, penting untuk mencari dan memilih asuransi yang pas di kantong, setelah menjadi ibu rumah tangga.

Tetapi persiapan ini opsional sih, tidak wajib, bergantung kebijakan keuangan masing-masing keluarga. Karena ada yang sudah memiliki asuransi kesehatan dari kantor suaminya.

9. Menyiapkan media penyaluran emosi

Perempuan cenderung lebih emosi daripada laki-laki, dan emosi ini perlu ditumpahkan, agar kita tetap stabil (tidak stres). Caranya? Bisa dengan curhat pada orang terpercaya kita, seperti suami, sahabat, kerabat, atau kawan sekomunitas. Atau bisa juga dengan menulis, karena menulis adalah salah satu cara self-healing.

10. Bergabung dalam komunitas parenting

Hal ini bukan hanya untuk menjaga kewarasan, tetapi juga untuk membuat kita terus bertumbuh menjadi ibu yang lebih baik. Memang tidak ada ibu yang sempurna, tetapi kasih sayang pada anak akan sempurna bila ibunya terus belajar memperbaiki diri.

Sekarang ini sudah banyak sekali komunitas parenting. Contohnya, ada komunitas Ibu Profesional, komunitas MoM (Mothers on Mission) Academy, komunitas Homeschooling, dan lain-lain.

11. Ubah mindset tentang Ibu Rumah Tangga

Menjadi ibu rumah tangga, bukan berarti menjadi pengangguran. Justru ini adalah profesi yang sangat berharga dan berat, karena di tangannya, bergantung hidup generasi alfa, generasi yang digadang-gadang akan memberikan perubahan lebih besar pada dunia.

Di sisi lain, menjadi ibu rumah tangga bukan juga berarti kita boleh banyak berleha-leha atau tidak produktif. Karena seorang anak itu akan meniru apa yang orang tuanya lakukan.

Pexel

Nah, kira-kira itu 11 hal yang harus disiapkan saat kita memutuskan resign dan menjadi ibu rumah tangga. Jadi, sudah siap untuk menjadi full time mom? Oh iya, terakhir saya ingin menyampaikan sebuah pesan :

Sebenarnya menjadi working mom atau full time mom sama-sama melelahkan, sama-sama banyak drama. Tetapi selama kita menikmati prosesnya, tersenyum atas setiap kejadian tak terduga yang membuat hati hancur, fokus pada solusi, dan melihat suatu kejadian dari sudut pandang hikmah, maka tidak ada yang berat.

Sumber :
https://www.goodnewsfromindonesia.id/2019/05/31/membantu-para-ibu-lebih-berdaya-dengan-komunitas

6 thoughts on “Mau Beralih dari Working Mom menjadi Full Time Mom (Ibu Rumah Tangga)? Siapkan Dulu 11 Hal Ini

  1. betul banget, sebagai mantai working mom, saya sudah merasakan berbagai tantangan menjadi SAHM.

    Kalau capeknya sih lebih capek jadi SAHM, karena semua dikerjakan sendiri, terlebih kalau kita nggak suka kerjaan rumah, 🙂

    1. Hmm gitu ya, mom? Aku rencana sih mau SAHM tahun depan, tapi belum tahu mau pakai ART mingguan atau enggak (soalnya khawatir aku keteteran dan butuh bantuan). DOakan aku bisa kuat seperti mom yaa 🙂

Tinggalkan Balasan ke Hastira Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *