Family

Mini Social Project di tengah Pandemi Covid-19

Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas Orientasi Komunitas Ibu Profesional. Apa sih Komunitas Ibu Profesional itu?

Singkat cerita, Komunitas Ibu Profesional adalah komunitas para Ibu dan calon ibu yang ingin meningkatkan kualitas diri sebagai seorang perempuan, seorang istri dan seorang ibu. ​Sebuah wadah untuk tumbuh bersama, belajar bersama, dan saling menguatkan, dengan forum belajar yang dikelola secara online dan offline.

Latar Belakang

Berawal dari pandemi Covid-19 dan kebutuhan keluarga kecil kami untuk membeli hand sanitizer (selanjutnya disingkat HS) dan masker yang terjangkau, suami saya sampai harus mencari ke Pasar Pramuka, sebuah pasar di Jakarta Pusat yang terkenal paling murah barang-barangnya (padahal kami tinggal di ujung Jakarta Selatan). Tapi ternyata harga HS dan masker S**nsi di Pasar Pramuka tersebut sudah sangat tidak wajar, naik 10 sampai 20 kali lipat. Akhirnya kami harus membeli HS yang termurah. Dan berpikir bagaimana bisa mendapatkan masker yang terjangkau.

Sejak saat itu, kami berpikir harga-harga yang tidak manusiawi itu pastilah tidak akan terbeli oleh para pekerja harian. Untuk mendapatkan penghasilan harian saja (Rp 50.000 sampai Rp 100.000) sudah demikian susah di tengah instruksi social distancing. Boroboro terpikirkan untuk membeli HS yang harganya bisa di atas Rp 40.000.

1. Membuat hand sanitizer gratis

Berdasarkan kondisi di atas, jadilah kami berencana untuk membuat sendiri hand sanitizer gratis, yang akan dibagikan pada para pekerja informal yang tetap harus keluar dan bekerja. Tentu kami berkonsultasi terlebih dahulu formula HS tersebut ke beberapa kerabat yang kami percayai sebagai ahli. Biaya pembuatan 5 Liter hand sanitizer ini berasal dari dana kami pribadi.

Kegiatan pembagian HS ini sudah terlaksana pada minggu ke-3 Maret lalu. Berikut ini adalah beberapa dokumentasinya.

2. Edukasi dan pembagian masker kain untuk mencegah penyebaran Covid-19

Dikarenakan dana kami terbatas, maka suami memberikan ide untuk melakukan penggalangan dana melalui berjualan. Kami menjual masker kain secara online, di mana sebagian keuntungan dari penjualan masker tersebut akan digunakan untuk pembagian masker gratis ke pekerja informal.

Tempat yang dijadikan sebagai kegiatan sosial kami ini adalah di sekitar lingkungan rumah kami, yakni Kecamatan Jagakarsa, serta beberapa kenalan yang membutuhkan.

Alhamdulillah dari hasil penjualan tersebut, sampai saat ini kami dapat membagikan hampir 250 pcs masker, berdonasi uang cash pada pekerja terdampak Covid-19, dan memberi makanan bergizi (berupa buah-buahan) untuk para pekerja informal yang terpaksa harus tetap bekerja. Berikut adalah dokumentasinya dan video pembagian masker gratis.

Susunan Tim

Susunan tim dari mini social project ini adalah keluarga kecil kami, yang terdiri atas:
– Ketua tim
– Pengadaan barang (yang berhubungan dengan supplier)
– Customer Service/ Admin
– Marketing (untuk menarik orang-orang agar mau membeli)
– Desain & Dokumentasi

Kami menyebut keluarga kami sebagai Tim Semut, karena semut memiliki karakter suka bekerja sama dan bahu-membahu dalam hal apapun, termasuk ketika menghadapi masalah. Setiap tahun keluarga kecil kami memiliki target utk membuat satu social Projects, tujuannya membantu memecahkan masalah sosial di lingkungan masyarakat.

Manfaat Membuat Mini Social Project

1. Membuat keluarga ada waktu untuk berkumpul karena biasanya fokus ke karir masing-masing. Dengan adanya kegiatan bersama, akan menyatukan waktu, tenaga, dan pikiran bersama.

2. Latihan pemecahan masalah. Dengan adanya masalah sosial yang ingin dipecahkan, kita dituntut mencari pemecahan dari aspek sistem, perangkat, metode, sampai realisasi. Dengan semakin banyak latihan pemecahan masalah, kemampuan pemecahan masalah kita akan meningkat, mendewasakan diri, lebih bijak melihat persoalan, dan sebagainya.

3. Memberikan kontribusi sosial, hidup tidak hanya untuk kesuksesan individu, apalagi material semata, tetapi untuk masyarakat. Ibadah tidak sekadar ritual semata, ada ibadah sosial yang nilai pahalanya juga besar dan mudah-mudahan bernilai jariyah.

Dalam project ini kami juga mengajak si kecil mulai dari memilih bahan, mem-packing, sampai distribusi agar kelak ia tumbuh menjadi pribadi yg memiliki kepekaan sosial. “Kami belajar berbagi bukan karena memiliki lebih, tapi karena kami tahu rasanya tidak punya apa-apa”.

Menariknya Program social project ini menjadi media pembelajaran di sekolah-sekolah berkualitas seperti Sekolah Alam, High Scope, Lab School dll. Mungkin karena manfaatnya yang besar untuk pembelajaran anak di kehidupan nyata. Bisa dibayangkan bila dipraktikkan oleh setiap keluarga di Indonesia.

Bila usia saya sekarang 28 tahun, dan tiap tahun saya mentargetkan membuat 1 social project, harapannya akan ada 30 pemecahan masalah sosial yang dapat kami lakukan untuk masyarakat. Mudah-mudahan ke depan skalanya bisa lebih luas, perangkatnya lebih baik, dan impact-nya lebih maksimal (aamiin..)

Stay safe, stay healthy, stay happy, and stay helping others 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *