Pra Bunda Sayang 4 Keterampilan Dasar Orang Tua

4 Keterampilan Dasar sebagai Orang Tua Masa Kini: Pra Bunda Sayang

“Tidak ada ibu bekerja ataupun ibu tidak bekerja, karena semua ibu sama-sama bekerja. Ada yang memilih bekerja pada ranah domestik dan juga ranah publik, keduanya sama-sama baik, sama-sama mulia, yang membedakan hanyalah kesungguhannya.” – Septi Peni Wulandani

Haai, ketemu lagi dengan blog Tuang Cerita, Secangkir Hangat Cerita Ibu Muda.

Quote di atas sebenarnya sudah pernah saya dengar tahun 2018, pas pertama kali saya bergabung di Ibu Profesional. Tapi membaca kembali quote itu hari ini (saat mengikuti Pos 3 Pra Bunda Sayang), rasanya begitu jleb!

Maklum, hampir 4 tahun menjadi ibu, rasa-rasanya saya menjalankan peran ibu ini asal-asalan. Di tahun pertama saya masih rajin membaca buku parenting, tapi setelah itu saya seperti tenggelam pada pergolakan karir yang cukup draining (menguras emosi dan energy).

Lagi-lagi, 2 bulan lalu saya ditinggal oleh ART yang bekerja sekaligus sebagai pengasuh anak. Si ART ini sakit cukup lama, lebih dari 2 minggu. Sehingga kami harus mencari penggantinya, tetapi proses itu juga memakan waktu hampir 2 minggu. Singkat cerita, selama 1 bulan tanpa ART itu, saya jadi menyadari banyak hal yang tidak beres pada saya, salah satunya: saya tidak pandai mengurus  anak!

Akhirnya kuputuskanlah untuk kembali belajar parenting. Salah satu cara yang kuambil adalah dengan mengikuti kelas Bunda Sayang di Ibu Profesional.

Kenapa perlu memiliki 4 Keterampilan Dasar sebagai Orang Tua?

Minggu ini kami berada di Pos 3 Pra Bunda Sayang (atau disingkat PraBunSay). Materinya tentang 4 Keterampilan Dasar sebagai Orang Tua Masa Kini. Untuk yang pengen tahu materi sebelumnya serta agenda kelas PraBunSay, bisa dicek di postingan sebelumnya.

Di pos 3 ini, materinya disampaikan oleh Lulu B. Maslukanah (Manager Program Bunda Sayang) pada Senin, 5 Juli 2021pukul 10.30 WIB, live dari FB Group Bunda Sayang Batch 7.

Sebenarnya minggu ini saya cukup hectic, tetapi kupaksakan untuk hadir mengikuti Live nya walau hanya sebentar. Latar belakang dari materi ini adalah karena dulu, tugas ibu dianggap hanya mengandung, melahirkan, menyusui, menyiapkan MPASI, dll. Benarkah tugas ibu seputaran itu?

Materi ini mencoba merevolusi mindset kita tentang ibu. Sebenarnya ada 4 keterampilan dasar yang kudu dimiliki ibu untuk menjalankan tugasnya. Tapi sebelum masuk ke situ, kita harus tahu dulu, apa sih yang dimaksudkan dengan Ibu Profesional itu?

arti ibu dan perofesional menurut KBBI

Ibu Profesional adalah seorang perempuan yang:

  1. Bangga akan profesinya sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya
  2. Senantiasa memantaskan diri dengan berbagai ilmu, agar bisa sungguh-sungguh mengelola keluarga dan mendidik anaknya dengan kualitas yang sangat baik

Singkatnya, ibu professional adalah perempuan yang bersungguh-sungguh menjalankan profesi ibu dan istri. Untuk bisa bersungguh-sungguh menjalankan profesi itu, diperlukanlah 4 keterampilan dasar.

4 Keterampilan Dasar sebagai Orang Tua Masa Kini

Sebelum masuk ke keterampilan dasar tersebut, kita perlu menyadari posisi bahwa kita adalah orangtua masa kini. Tujuannya agar si anak bisa resilience, bertahan hidup dengan kondisi zaman yang akan terus berubah.

“Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu” –Ali Bin Abi Thalib.

Bila kita perhatikan, dari zaman ke zaman, orang tua mengalami transformasi peran seperti ini

transformasi peranan orang tua dari masa ke masa

Saat ini, peran orang tua sudah bertransformasi menjadi teman bertumbuh dan berkembangnya anak. Yang namanya teman, berarti main sama-sama, tidak menggurui. Jangan bicara jam terbang atau pernah hidup lebih lama dan sebaiknya tidak menjadi orang tua yang sok tahu.

Nah dengan menyadari peran orang tua sebagai teman bertumbuh dan berkembang anak, barulah kita bisa masuk ke keterampilan yang perlu dilatih dan dikuasai, yaitu:

  1. Belajar mengelola mental stage

Setiap orang pasti memiliki 3 sisi sebagai berikut:

  1. Sisi orang tua –> Merasa hidup lebih lama, paling tahu, suka menasehati, lebih berkuasa (bicaranya sering ada kata “pokoknya Mama mau kamu bla bla bla ….”)
  2. Sisi anak-anak –> cirinya rasa ketidakberdayaan, segala sesuatu maunya seketika, suka kesenangan jangka pendek
  3. Sisi orang dewasa –> cirinya menggunakan Fakta, Data, Problem Solving

Sebagai orang tua, kita harus bisa acting, kapan kita menjadi sisi orangtua, anak-anak, atau dewasa saat membersamai anak.

  1. Komunikasi sebaya

Artinya, kita belajar komunikasi secara produktif dengan menyesuaikan lawan bicara

  • Hindari kalimat menasihati, mendominasi
  • Belajar mendengarkan
  • Belajar menggunakan cara berpikir, kalimat, atau bahasa anak
  1. Updating status/ upgrade

Orang tua belajar (upgrade diri) agar pemikiran kita tidak sama seperti zaman dahulu.

Anak-anak tidak suka orangtuanya memiliki pemikiran yang kadaluarsa, bermain itu-itu saja, dan tidak suka hal monoton. Kita bisa membuat/ bermain sesuatu yang berbeda. Berbeda  itu tidak harus mahal. Berbeda itu bisa juga dengan cara penyampaiannya.

Agar tidak kadaluarsa, kita bisa belajar bersama dan tumbuh bersama anak.

  1. Belajar apresiasi, bukan evaluasi

Karena tidak semua orang itu suka dievaluasi, maka kita perlu belajar mengapresiasi anak terhadap hasil kerjanya, tandai hal-hal yang baik, dan focus pada yang baik.

Apresiasi bentuknya macam-macam, bisa dengan tepuk tangan, senyuman, pelukan, memberikan hadiah. Yang paling penting adalah cara menyampaikannya. Apresiasi harus spesifik, contoh “Terima kasih karena telah membantu mengelap lantai yang basah” agar anak mengetahui bahwa apa yang dia lakukan (menumpahkan air) itu tidak salah, tetapi harus dilap kembali.

 

Penutup

“For things to Change, I Must Change First” – Septi Peni Wulandani

Jika kita ingin anak kita berubah, maka kita perlu mengubah diri terlebih dahulu. Barulah setelah itu anak akan mengikuti kita untuk berubah. Karena bagaimanapun, perubahan itu tidak bisa kita minta ke anak. Missal, “Nak, kamu harus jadi mandiri”.

Karena itu kita harus bisa menggerakkan motivasi intrinsiknya anak, bukan dari motivasi luar seperti mengimingi hadiah, reward, atau sejenisnya. Motivasi seperti itu tidak bisa bertahan lama. Yang bisa kita latih ke anak adalah mereka bisa membangkitkan motivasi dari dalam diri sendiri. Karena: 

“Perubahan tidak bisa dimintakan, Perubahan itu digerakkan oleh masing-masing, Perubahan adalah hasil keputusan” – Dodik Mariyanto

Tugas Pos 3 Pra Bunda Sayang

Cobalah untuk membuat target capaian belajar yang ingin kamu capai saat berada di kelas bunsay 7..

Jawaban:

  1. Bisa membersamai anak dengan bahagia dan mindful selama 30 menit per hari
  2. Cara komunikasi saya bisa berubah menjadi lebih produktif.
  3. Bisa membuat anak lebih mandiri (melepas baju sendiri, mau tidur sendiri)
  4. Bisa berkurang konflik (bersitegang) dengan anak
  5. Lebih bahagia menjadi ibu, tidak mudah stress saat menghadapi perilaku menantang anak

 

PS: mohon maaf kurang lengkap, dikarenakan saat mengerjakan tugas ini saya sedang tidak enak badan. Doakan semoga lekas pulih dan bukan terkena penyakit yang sedang ramai dibicarakan.

 

#Prabunsay7

#TranscityHarmoni

#InstitutIbuProfesional

#IbuProfesionalforIndonesia

#SemestaKaryaUntukIndonesia

About the Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *