Pra Bunda Sayang Batch 7

Core Value Ibu Profesional: Pos 2 Pra Bunda Sayang

Hai, bertemu lagi dengan tulisan saya di kelas Bunda Sayang (lebih tepatnya Pra-Bunda Sayang). Kalau di tulisan sebelumnya saya membahas materi dan tugas Pos 1 di Pra Bunsay, kali ini kita masuk ke Pos 2.

Di Pos 2, kami belajar tentang core value di Ibu Profesional. 

Materinya disampaikan oleh Ika Pratidina sebagai widyaiswara (mentor/ guru) pada Senin, 28 Juni 2021 pukul 19.30 WIB melalui StreamYard di FB Grup Bunda Sayang Batch 7.

Core value Ibu Profesional

Core value adalah nilai-nilai yang ingin kita junjung atau dihargai dalam sebuah organisasi atau komunitas dan dijalankan oleh semua anggotanya dimana pun berada. Harapannya apabila core value tersebut sudah dijalankan, bisa melekat pada diri setiap anggota IP, sehingga pada akhirnya bisa menjadi culture (budaya).

Kenapa harus punya core value?

  • Agar sevibrasi dalam kebaikan à kebaikan bisa ditularkan dari satu member ke member lainnya
  • Agar kita punya tujuan (tidak sekadar “ngumpul”)
  • Agar bermartabat

 

Ibu Profesional memiliki 5 core value yang biasanya disebut dengan 5B (Belajar, Berkembang, Berkarya, Berbagi, dan Berdampak). Nah, untuk lebih pahamnya, berikut adalah penjelasan dari widyaiswara dengan sedikit penyesuaian bahasa dari saya.

1. Belajar (dengan semangat)

Harapannya semangat belajarnya terus tumbuh, punya rasa ingin tahu yang tinggi terhadap sesuatu. Jika ingin mendapatkan sesuatu, caranya ya dengan belajar.

Di era sekarang, belajar tidak lagi harus ke sekolah, duduk manis di depan kelas, mendapat ijazah, dan sertifikat. Belajar bisa di mana saja dan kapan saja (lewat media online, platform-platform belajar, yang bisa berupa podcast atau video). Belajar bisa juga ke orang yang ahli.

Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana bisa belajar dengan bahagia? Khususnya untuk seorang ibu, yang misalnya sudah ada 3 anak, kakak dan adik jaraknya berdekatan, biasanya sudah rungsing duluan menghadapi anak-anak dan tugas domestic yang segambreng.

Begini caranya agar bisa bahagia belajar:

  • Merdeka belajar –> belajar dimaknai seluas-luasnya, tidak harus offline, ilmunya tersebar di mana saja, belajar untuk semua usia dan media, terbuka luas kesempatan untuk belajar
  • Belajar = kebutuhan kita sebagai manusia
  • Tentukan prioritas –> harus menentukan prioritas, jika tidak bisa terjadi tsunami informasi. Jangan semua dilahap. Tanyakan, apakah bermanfaat untuk kita sekarang? Jika tidak, bisa dipelajari nanti-nanti

Gambar matrix berikut bisa dijadikan acuan untuk menentukan mana yang prioritas kita lakukan, mana yang bisa didelegasikan ke orang lain, atau tidak perlu kita kerjakan. 

Menentukan prioritas

Dengan menentukan prioritas, ilmu akan terasa bermanfaat dan waktu jadi tidak terbuang percuma. Kita juga harus berani mengatakan “Menarik tapi tidak tertarik” agar kita bisa menentukan prioritas kebutuhan belajar.

  • Terjadi perubahan –> perubahan dalam berpikir dan berperilaku.  

Nah, rasa bahagia belajar akan muncul dengan sendirinya apabila mendatangkan manfaat untuk kita. Terlebih jika kita berhasil melakukan sesuatu terhadapa apa yang telah dipelajari, rasa bahagia kita akan semakin bertambah.

2. Berkembang (hingga optimal)

Proses untuk menjadi lebih baik itu perlu direncanakan dengan sebaik-baiknya, jangan mengalir begitu saja. Ada skill yang perlu dikembangkan agar menjadi jauh lebih baik.

Jika memungkinkan, berkembang tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk berdampak pada orang lain. Mengasah dari hasil belajar yang telah dilakukan, harapannya kita sebagai member Ibu Profesional bisa berkembang menjadi lebih optimal.

3. Berkarya (maksimalkan potensi)

Menghasilkan sebuah karya itu tidak harus dengan mendapat sertifikat dari suatu lembaga. Berkarya itu bisa dengan menuliskan sesuatu, atau bisa membantu anak menemukan minatnya .

Berkarya itu untuk setiap orang berbeda-beda, jadi jangan pernah membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Bandingkanlah diri kita yang sekarang dengan diri kita yang kemarin atau diri kita yang minggu lalu atau diri kita yang bulan lau 

Setiap orang dilahirkan sudah memiliki potensi. Tugas kita adalah menemukan potensi itu, setelah itu belajar dan diasah, agar kita dapat berkarya dengan maksimal.

4. Berbagi (yang sudah dipraktekkan)

Berbagi apa yang sudah kita praktekkan, sekecil apa pun. Berbagi bisa apa saja, bisa ilmu, bisa sebuah cerita, atau pengalaman. Yang penting hal tersebut sudah pernah dipraktekkan, sehingga kita bisa mempertanggungjawabkan hasilnya, walaupun mungkin untuk orang lain bisa berbeda hasilnya.

Berhati-hatilah dalam berbicara. Karena kata-kata adalah doa. Semisal kita sering mendengar orang berkata seperti ini, “Ah saya mah apa tuh, cuma remahan rengginang. Belum punya karya dan belum bisa berbagi”

Itu kurang baik. Lebih baik menggunakan kata-kata positif. Pesan Bu Septi:

“Tidak ada yang bisa merendahkan diri kita, melainkan diri kita sendiri”

5. Berdampak

Berbagi –> sifatnya ikhlas memberikan sesuatu, semakin banyak memberi, yang datang akan jauh lebih banyak. Jika berbagi pada seseorang, maka timbal baliknya bisa dari orang yang tidak kita kenal.

Berdampak –> memberikan efek baik, bisa ke diri sendiri maupun kepada lingkungan sekitar (mendatangkan akibat yang positif).

Ketika kita masuk ke sebuah komunitas yang sudah ada core value nya, kita diajak untuk berbuat sesuatu untuk diri kita. Komunitas ini ingin menjunjung tinggi martabat anggota yang ada di dalamnya.

Kita perlu mengingat, pahami, resapi, saling mengingatkan, dan mempraktekkan core value itu. Bila sudah dibiasakan, dapat menjadi kultur (budaya).

Agar core value melekat pada diri kita

Bagaimana caranya core value itu bisa melekat di diri kita (selain diingat, dipahami, dll)? Salah satu caranya adalah dengan menguatkan strong why (kenapa perlu belajar, berkembang, berkarya, berbagi dan berdampak)

Bagaimana cara menemukan strong why? Salah satunya bisa dengan menentukan tujuan kita melalui SMART Method (Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-Bound)

  • Specific: harus jelas dan detail apa yang mau kita cari
  • Measurable: bisa diukur apa yang ingin didapatkan
  • Achievable: tujuan tersebut dapat dicapai, tidak ngawang-ngawang
  • Relevant: apakah relevant dengan kebutuhan sekarang?
  • Time-Bound: apakah sampai Bunda sayang selesai? Atau mau lanjut setelah itu?

“Core value bukan milik Ibu Profesional, tapi milik anggota-anggotanya.”

Tugas Pos 2 Pra Bunda Sayang

“Apa yang menjadi Strong Why dalam mengikuti kelas bunda sayang batch 7 ini?“

Apakah kita Bahagia menjalaninya, atau Apakah hanya sekedar ikut-ikutan saja?” untuk siapa kah kita mengikuti kelas bunda sayang ini? Haruskah saya mengikutinya?

Carilah 1000 pertanyaan dan temukan jawabannya HANYA pada dirimu..

Jawaban:

  1. Mengurangi garis kerutan di dahi hehee. Serta mengurangi rambut rontok. Tentu itu terjadi bukan hanya karena factor usia. Usiaku belum genap 30, tapi kok sudah ada garis-garis tipis di atas alis hehee. Mungkin karena aku kurang menikmati hidup, terutama pasca menjadi seorang ibu. Bila diingat-ingat, mungkin aku lebih banyak cemberutnya saat menghadapi ulah anak, ketimbang tersenyum. Intinya, saya ingin menjadi ibu yang bahagia.
  2. Memasuki usia 3 tahun, si Kecilku mulai tidak terkendali emosinya. Seringnya ia enggan melakukan apa yang kami minta. Setelah itu konflik di antara kami pun tak terhindarkan. Sayang, tak jarang emosiku ikut meledak. Pada masa-masa itu juga aku cukup frustasi menghadapi anakku, ditambah aku sedang tidak bekerja. Belakangan aku menyadari bahwa aku harus menyelesaikan masalah ini. Caranya? Aku harus belajar tentang parenting, tapi tidak tahu mulai dari mana. Kebanyakan tulisan atau artikel di internet hanya tips-tips yang kebanyakan dangkal atau umum. Sehingga aku memutuskan untuk ikut kelas Bunda Sayang selama kurang lebih 1 tahun. Semoga dengan belajar di BunSay, aku bisa menemukan cara yang tepat menghadapi tingkah si Kecil.
  3. Memperbaiki komunikasi dan relationship dengan suami.
  4. Saya berencana menambah anak, oleh karena itu saya harus menuntaskan terlebih dahulu masalah-masalah yang sering muncul antara saya dengan anak. Supaya saat anak ke-2 lahir, saya tidak lagi stress seperti pasca melahirkan anak pertama.
  5. Belajar journaling secara konsisten, untuk lebih mengetahui perkembangan anak dan perjalanan lebih mengenal diri sendiri.
  6. Mengurangi rasa bersalah dari meninggalkan anak karena bekerja (ketika WFH, saya bekerja di kamar menutup pintu. Sementara anak saya di ruang tamu atau di kamarnya bermain bersama si mbak)
  7. Tidak mengulangi kesalahan mendidik yang pernah dilakukan orang tua saya. Hal itu menyebabkan saya jadi memiliki luka batin (inner child). Saya ingin menyelesaikan masalah inner child ini.

Pada intinya, saya ingin menjadi ibu yang lebih baik dan bahagia. Karena ibu yang bahagia pastinya akan menghasilkan anak yang bahagia juga. Dan aku yakin, bahagia bisa membuat seseorang menjadi lebih tangguh

Semangaaat! Doakan aku yaa agar bisa berproses dengan bahagia 🙂

 

#Misi2prabunsay7
#TranscityHarmoni
#InstitutIbuProfesional
#IbuProfesionalForFoundation
#SemestaKaryaUntukIndonesia

About the Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *