Life is Never Flat

Seperti mengendarai mobil, perjalanan hidup itu tidak selalu mulus. Kadang terjebak macet, kadang diserempet pengendara lain, atau paling ekstremnya, kita mengalami kecelakaan. Tapi percayalah, semacet-macetnya jalan, pasti akan terurai juga. Separah-parahnya badai tantangan menerjang, pasti akan reda jua. Dan setiap perjalanan yang dilalui pasti memberikan pelajaran.

 

Seperti kisah narasumber Mbak Ai di Panggung Ceria pada FB Grup Institut Ibu Profesional

Saat ia sudah menduduki posisi sebagai Manager dan usaha online nya terbilang sangat sukses, keadaan berbalik begitu cepat.

Melihat jumlah transaksi usahanya yang semakin besar, ia memaksakan diri untuk membuka toko offline dengan dana dari kartu kredit. Ternyata di situlah awal klimaks cerita dimulai.

Beberapa lama setelah toko offline berdiri, masalah mulai bermunculan. Pembukuan mulai macet, piutang tak terbayarkan, sampai akhirnya menyisakan hutang sebesar Rp 400 juta di 2014. Di saat genting seperti itu, ia mengandung anak ke-2. Ia sempat stress karena cicilan hutang yang begitu besar, sehingga disuruh bed rest. Dalam kondisi masih payah, ART (Asisten Rumah Tangga) nya malah berhenti bekerja, sehingga ia terpaksa mengerjakan seluruh pekerjaan domestik. Bahkan ia sampai harus membawa anak pertamanya ke tempat kerja, karena tidak ada yang menjaganya.

Akhirnya Mbak Ai mengundurkan diri dari pekerjaannya agar bisa lebih beristirahat. Tapi persiapan resign tidak matang, ia belum memiliki alternatif pemasukan dan kegiatan. Ditambah tak jarang ia didatangi debt collector yang seram muka dan perilakunya. Ia berusaha membayar cicilan kartu kreditnya dari dana kartu kredit lainnya. Bak gali lubang tutup lubang, cicilan hutangnya seperti tidak berkurang sama sekali.

Ia lalu memutuskan untuk pulang ke kampung halaman agar pikirannya lebih tenang.

“Meski jauh atau LDR dengan suami, tapi setidaknya di kampung ada saudara yang bisa membantu setelah melahirkan”, pikir Mbak Ai.

Sayang, yang terjadi justru sebaliknya. Anaknya lahir prematur dan ia terpaksa operasi sesar. Ia pun sering mendapat omongan negatif (di-bully) dari saudaranya. Rupanya ujian belum berhenti sampai di situ. Kakinya lumpuh, tidak bisa digunakan berjalan, karena luka bakar. Ia bahkan sampai tidak merasakan sakitnya perut (akibat sesar), saking sakitnya kakinya. Saat itu ia seperti berada di titik terendah, ia bahkan tidak memiliki gairah hidup.

“Lebih baik mati daripada hidup dengan penuh beban”, pikirnya dengan tatapan kosong.

Saat itulah ia diingatkan oleh kakaknya.

“Kamu adalah orang terpilih. Karena itulah kamu diberikan ujian ini. Tidak ada yang masuk surga tanpa ujian”, nasihat kakaknya yang sampai hari ini masih terngiang.

Tatkala melihat senyum anak keduanya yang prematur itu, ia berlinang air mata. Semangatnya bangkit kembali. Ia harus berjuang untuk dua malaikat kecilnya.

Dokter menyarankan agar kakinya dioperasi, tetapi ia tidak mau. Ia menggunakan cara tradisional untuk pengobatan kakinya. Nahasnya, ada yang malah melakukan mal praktek pada kakinya, sehingga kakinya makin busuk.

Karena cukup tertekan di kampung, akhirnya Mbak Ai kembali ke kota bersama suaminya. Meskipun sendirian, setidaknya ada dukungan suami yang bisa sangat membantu. Ada saat di mana ia dan suami menangis bersama, karena merasa ujian datang bertubi-tubi. Tapi suaminya tak pernah menyalahkannya. Lalu mereka mencoba ikhlas, berdamai dengan diri sendiri, dan fokus pada solusi.

Mereka menjual semua aset, agar cicilan hutang dapat terbayarkan. Alhamdulillah satu per satu mulai terjual. Meski sudah tidak ada lagi mobil, motor, dan harus tinggal di kontrakan kecil, namun masalah terbesar mereka bisa terselesaikan.

 

Sejenak Mba Ai bisa bernapas lega, tapi ada satu hal lagi yang tersisa. Sejak kejadian itu, ia minder berkepanjangan. Maklum, sebelumnya posisinya Manager, punya anak buah, ART, dan aset yang cukup. Self-love nya sangat menurun. Ia merasa menjadi Ibu Rumah Tangga yang gagal, kere, dan tidak bisa apa-apa.

Mba Ai lantas mencari solusi untuk menaikkan kembali mentalnya. Ia tidak boleh berlama-lama merasa insecure. Beruntung ia bertemu dengan komunitas Ibu Profesional. Di situ ia memiliki kegiatan aktualisasi, bahkan mengetahui minatnya di menulis. Malah dalam 2 tahun terakhir, Mba Ai telah berhasil menerbitkan puluhan buku (antologi maupun solo).

 

Terima kasih, Mba Ai. Kisahnya sangat bermakna dan memberikan pelajaran untuk saya pribadi. Hikmah yang saya tangkap adalah:

  1. Tidak ada ujian yang berat. Tuhan sudah memberikan ujian yang sesuai dengan kemampuannya masing-masing.
  2. Berdamai dengan kondisi yang tidak ideal membuat kita bisa berpikir lebih jernih.
  3. Fokus pada solusi agar masalahnya dapat terselesaikan.
  4. Suami adalah support system yang pertama, dukungan suami sangat berarti.
  5. Cari dan bergabunglah dengan komunitas yang bisa membangun diri kita lebih baik
  6. Temukan minat atau bakat, karena itu bisa menjadi “me time” nya kita. Selain itu, produktif berkarya bisa membuat kita lebih bahagia.

 

Jakarta, 29 Mei 2020

Review Panggung Ceria, ditulis untuk memenuhi tugas Bunsay @institut.ibuprofesional

Host: Evi; Narasumber Ai

About the Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *